Wednesday, 6 April 2016

KESULTANAN ISLAM PERLAK




1. KESULTANAN PERLAK (840 M - 1292 M)

A.LOKASI DAN SUMBER SEJARAH
                Kesultanan Perlak adalah kesultanan islam pertama di Nusantara, dan berlokasi di sekitar wilayah Peureulak atau Perlak, wilayah Aceh Timur, Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
 Ibnu Batuttah ( pengembara muslim dari Maghribi (sekarang maroko)), menuliskan bahwa di Perlak dan Pasai telah tersebar Mazhab Syiah.
Marco Polo menceritakan bahwa di ibu kota kesultanan, penduduknya beragama muslim dan diluar ibu kota belum menganut agama islam.

B. KONDISI SOSIAL – POLITIK KESULTANAN

Alasan tentang Kesultanan Perlak menjadi pusat perdagangan:
        Posisi strategis dan hasil alam yang melimpah membuat perlak berkembang sebagai pelabuhan internasional. Sehingga, perlak sering disinggahi oleh Jutaan kapal dari arab, persia, gujarat, malaka, cina, serta dari seluruh kepulauan nusantara.
       Daerah Aceh merupakan penghasil lada yang diekspor ke India dan Timur Tengah.
       Mundurnya Kerajaan Melayu sebagai pusat perdagangan.
Tujuan para pedagang  adalah berdagang sekaligus berdakwah menyebarkan agama islam di Perlak.
Kesultanan perlak didirikannya pada tanggal 1 Muharram 225 H atau 840 masehi. Dengan pendiri kesultanan Perlak adalah sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Shah yang menganut aliran atau Mahzab Syiah.
                Ketika pemerintahan sultan ketiga, ulama-ulama bermazhab Sunni mulai masuk ke perlak dan menebarkan pengaruh. setelah wafatnya sultan ketiga, terjadi ketegangan antara kaum Syiah dengan kaum Suni, sehingga selama dua tahun berikutnya kesultanan Perlak vakum kekuasaan.
Pada kondisi ini, terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni dan akhirnya kaum syiah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), sultan keempat dari aliran Syiah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni.
                Pada saat kekuasaan sultan ketujuh, terjadi lagi ketegangan selama kurang lebih empat tahun antara golongan Syiah dan Sunni, yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian ; yaitu Perlak Pesisir (Syiah) dan Perlak Pedalaman (Sunni).
Tahun 988, Kerajaan Sriwijaya Menyerang Perlak. Sultan Alaiddin Maulana Syah meninggal karena serangan itu. Namun demikian, sebagai akibatnya, seluruh perlak justru bersatu kembali di bawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Syah Berdaulat. Sultan Makhdum melanjutkan perjuangan melawan kerajaan Budha Sriwijaya hingga tahun 1006.
Pada awal abad ke-13 di Ujung barat Sumatra berdiri kesultanan baru yaitu Kesultanan Samudera Pasai dan Kesultanan Malaka. Untuk itu, sultan ke 17 menjalankan politik persahabatan. Jalan yang ia tempuh adalah dengan menikahkan dua orang putrinya dengan para penguasa negeri tetangga.Meski telah mengikat persaudaraan, ketegangan politik tetap saja mengancam kedaulatan kesultanan Perlak. Perlak goyah.
Sultan Makdum Aliddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292) menjadi sultan yang terakhir.
Setelah ia meninggal, perlak disatukan dengan kesultanan Samudra Pasai di bawah pemerintahan Sultan Muhammad Malik Al-Zahir, putra Al-Saleh.

C. NAMA- NAMA SULTAN YANG PERNAH MEMERINTAH KESULTANAN PERLAK
  1. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Azis Syah (840 – 864)
  2. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abdul Rahim Syah (864 – 888)
  3. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Abbas Syah (888 – 913)
  4. Sultan Alaiddin Sayid Maulana Ali Mughat Syah (915 – 918)
  5. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir (928 – 932)
  6. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin shah 2 johan berdaulat (932 – 956)
  7. Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik (956 – 983)
  8. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim (986 – 1023)
  9. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud (1023 – 1059)
  10. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur (1059 – 1078)
  11. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah (1078 – 1109)
  12. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad (1109 – 1135)
  13. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud (1135 – 1160)
  14. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad (1173 – 1200)
  15. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Jalil (1200 – 1230)
  16. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin (1230 – 1267)
  17. Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz  johan berdaulat (1267 – 1292)
sumber : buku Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, M. Hariwijaya, S. S., M.S.i.